| <<<==ayat berikutnya | Al-Baqarah ayat ke 7 | ayat sebelumnya ===>> | ||
خَتَمَ الـلَّـهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ وَعَلَىٰٓ أَبْصَٰرِهِمْ غِشَٰوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ |
Setiap Huruf arab ini dapat diklik untuk diperdalam maknanya
| Kajian kata | غِشَٰوَةٌ pada surat 2.Al-Baqarah ayat ke 7 Juz ke : 1 Halaman : 3 Baris ke : 3 pada mushaf Quran Madinah |
| Bacaan dalam tulisan arab latin | ghisyâwatun |
| Arti kata ghisyâwatun ( غشاوة ) | tutupan / tabir |
| Jumlah pemakaian kata غِشَٰوَةٌ | 1 kali. Rinciannya ada disini |
| Kata dasar dari kata غِشَٰوَةٌ tersusun dari suku kata | غ-ش-ي kata dasar غ-ش-ي ini huruf hijaizah yang ketiga yaitu ي yang bisa berubah menjadi ا atau ء atau و atau ى atau tidak ada sama sekali. tergantung polakata (wazan) yang digunakannya. Penggunaan kata dasar غ-ش-ي ini pada AlQuran ada di sini |
| Jumlah pemakaian kata dasar atau akar kata غ-ش-ي pada AlQuran | 29 kali. Dipakai untuk kata benda sebanyak : 8 kali. Rinciannya ada disini Dipakai untuk kata kerja sebanyak : 21 kali. Rinciannya ada disini |
| Jumlah variasi pemakaian kata dasar غ-ش-ي pada AlQuran | 25 macam. Rinciannya ada disini |
| Makna dari kata dasar غ-ش-ي Catatatan : Ini bukan kamus, tetapi merupakan keterkaitan kata yang bisa jadi padananya atau keterangannya atau lawan katanya | Kata dasar ini sebagai kata benda berkaitan dengan makna kata kesurupan,keadaan tdk sadar diri, keadaan kemasukan roh, halimun, kabut, kabur, awan, mega, mendung, jumlah besar, keadaan susah, syal dr wol, noda, pedut, keadaan pingsan,hamparan, lapisan penutup, lembaran penutup. Kata dasar ini sebagai kata kerja berkaitan dengan makna kata kesurupan, kerasukan, jatuh pingsan, menutupi, menggelapkan, meredupkan, memurungkan, memperkeruh, melapisi, membebani, berkabut. |
| Tafsir dari kata غِشَٰوَةٌ | secara fisik sumbatan atau penutup atau penghalang terhadap mata, telinga, dan hati ini bisa jadi tidak nampak. Tetapi sumbatan ini akan menjadi penghalang manusia untuk tidak mendapatkan hidayah baik melalui hati, mata maupun telinga. Sungguh bagi mata, telinga dan hati sebenarnya atau seharuskan merupakan wahana atau jalan masuk bagi manusia untuk mendapatkan hidayah atau petunjuk, tetapi dengan adanya sumbatan atau penutup atau penghalang ini manusia menjadi tidak dapat mendapatkan hidayah maupun petunjuk kebenaran dari Allah. |