Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 80

Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Irab Surat AnNisa ayat 80



Ayat ini menetapkan prinsip fundamental dalam akidah Islam mengenai otoritas Nabi Muhammad : ketaatan kepada beliau adalah identik dengan ketaatan kepada Allah. Ayat ini juga membatasi tanggung jawab Rasul hanya sebagai penyampai, bukan pemaksa bagi mereka yang berpaling.


🧐 Analisis I'rāb (Gramatikal)

I. Bagian Pertama: Ketaatan kepada Rasul adalah Ketaatan kepada Allah

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

مَنْ (Man)

Ism Syarṭ Jāzim (Kata Syarat)

Berposisi sebagai Mubtada' (Subjek). Mabni sukun. Artinya: "Barangsiapa."

يُطِعِ (Yuṭi‘i)

Fi'l Muḍāri'

Fi'l Syarṭ (Kata Kerja Syarat). Majzūm dengan tanda sukun, namun dikasrahkan (yuṭi‘i) untuk menghindari pertemuan dua sukun (iltiqā’ sākinain) dengan alif lam sesudahnya. Fā'il-nya ḍamīr mustatir (huwa).

الرَّسُولَ (Ar-Rasūla)

Maf'ūl bih (Objek)

Manṣūb dengan tanda fatḥah. Objek dari ketaatan.

فَ (Fa)

Fā' Rābiṭah li Jawāb Syarṭ

Huruf pengikat jawaban syarat. Wajib hadir di sini karena kalimat jawaban diawali dengan Qad.

قَدْ (Qad)

Ḥarf Taḥqīq

Huruf penegas/kepastian. Artinya: "sungguh/benar-benar."

أَطَاعَ (Aṭā‘a)

Fi'l Māḍī

Fi'l Māḍī mabni 'ala fatḥah. Fā'il-nya ḍamīr mustatir (huwa).

اللَّهَ (Allāha)

Lafẓul Jalālah

Maf'ūl bih (Objek). Manṣūb dengan fatḥah.

(Kalimat Jawab)

Jumlah Fi'liyyah

Kalimat faqad aṭā‘a Allāha berada pada posisi Jazm secara kedudukan sebagai Jawāb Syarṭ.

II. Bagian Kedua: Sikap Terhadap Orang yang Berpaling

وَمَن تَوَلَّىٰ

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَ (Wa)

Wāw Isti'nāfiyyah / 'Aṭifah

Permulaan kalimat baru atau penghubung yang membandingkan kondisi kedua.

مَنْ (Man)

Ism Syarṭ Jāzim

Mubtada' (Subjek). Mabni sukun.

تَوَلَّىٰ (Tawallā)

Fi'l Māḍī

Fi'l Syarṭ. Mabni dengan fatḥah muqaddarah (dikira-kira) di atas alif karena ta'aẓẓur (sulit diucapkan). Berada pada posisi Jazm secara kedudukan.

III. Bagian Ketiga: Batasan Tanggung Jawab Rasul

فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

فَ (Fa)

Fā' Rābiṭah li Jawāb Syarṭ

Pengikat jawaban syarat.

مَا (Mā)

Mā Nāfiyah

Huruf penyangkal (negasi). Artinya: "Tidaklah."

أَرْسَلْنَاكَ (Arsalnāka)

Fi'l Māḍī + Fā'il + Maf'ūl

Arsalnā: Fi'l mabni sukun, sebagai Fā'il (Kami). Kāf (ك) sebagai Maf'ūl bih (Objek - Kamu/Rasul).

عَلَيْهِمْ ('Alaihim)

Jārr wa Majrūr

Terkait (muta'alliq) dengan kata Ḥafīẓan atau Arsalnāka.

حَفِيظًا (Ḥafīẓan)

Ḥāl (Keterangan Keadaan)

Manṣūb. Menjelaskan keadaan objek (Kāf/Rasul) saat diutus. Artinya: "sebagai pemelihara/pengawas."


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Korelasi Mutlak (Syarat & Jawab):

    Struktur kalimat Man Yuṭi‘... Faqad Aṭā‘a... menegaskan hubungan sebab-akibat yang tidak terpisahkan. Penggunaan Fi'l Māḍī pada jawab syarat (aṭā‘a) memberikan makna kepastian (tahqiq), seolah-olah ketaatan kepada Allah itu sudah terjadi seketika saat seseorang menaati Rasul.

  2. Posisi "Ḥafīẓan" sebagai Ḥāl:

    Kata Ḥafīẓan di-i'rab sebagai Ḥāl (keadaan), bukan Maf'ūl Li'ajlih (alasan). Ini memberikan makna teologis yang penting: "Kami tidak mengutusmu dalam kapasitas/keadaan sebagai pengawas amal mereka (sehingga kamu harus memaksa mereka)." Tugas Rasul adalah menyampaikan (baligh), bukan memaksa atau menanggung dosa mereka yang berpaling.

  3. Variasi Fi'il Syarat:

    • Pada kalimat pertama, Allah menggunakan Fi'l Muḍāri' (يُطِعِ) yang menunjukkan kesinambungan/kebiasaan (siapa yang terus menerus taat).

    • Pada kalimat kedua, Allah menggunakan Fi'l Māḍī (تَوَلَّىٰ) untuk orang yang berpaling, yang bisa mengisyaratkan bahwa tindakan berpaling itu adalah sebuah kejadian yang telah berlalu atau satu tindakan pemutusan.

  4. Hazf al-Jawab (Penghilangan Jawaban):

    Secara tersirat, jawaban syarat untuk "Wa man tawallā" adalah "maka biarkanlah dia" atau "maka itu bukan urusanmu". Namun, Al-Qur'an langsung melompat ke Illat (alasan) dari pembiaran tersebut: Famā arsalnāka 'alaihim ḥafīẓan (Karena Kami tidak mengutusmu untuk mengawasi mereka). Ini adalah gaya bahasa Ijaz (peringkasan) yang sangat fasih.