Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 73

Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: 'Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)'.

Irab Surat AnNisa ayat 73

Ayat ini menjelaskan reaksi orang munafik (yang dicela di ayat 72) jika kaum Muslimin mendapatkan karunia dan kemenangan dari Allah, yaitu penyesalan karena tidak ikut serta dalam peperangan sehingga tidak mendapat bagian dari rampasan perang. Ayat ini menyajikan sisi lain dari egoisme munafik: bukan hanya syukur atas musibah kaum Muslimin, tetapi juga penyesalan atas kesuksesan kaum Muslimin, di mana motivasi mereka sepenuhnya material.

🧐 Analisis I'rāb (Gramatikal)

I. Bagian Pertama: Hipotesis Kemenangan dan Reaksi Munafik

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَ (Wa)

Wāw Isti'nāfiyyah

Memulai kalimat baru.

لَئِنْ (La'in)

Lām al-Muwāṭṭi'ah li al-Qasam (Lām yang Mengindikasikan Sumpah) dan In (Harf Syarṭ Jāzim)

Lām menunjukkan adanya sumpah yang dihilangkan (wallāhi - Demi Allah). In adalah huruf syarat.

أَصَابَكُمْ (Aṣābakum)

Fi'l Māḍī

Fi'l Syarṭ (Kata Kerja Syarat) pada posisi jazm (secara kedudukan). Kum (كم) adalah Maf'ūl bih.

فَضْلٌ (Faḍlun)

Fā'il (Subjek)

Marfū'. Artinya: "karunia/kemenangan."

مِّنَ اللَّهِ (Mina Allāhī)

Jārr wa Majrūr

Na'at (Sifat) untuk Faḍlun.

لَيَقُولَنَّ (Layaqūlanna)

Lām al-Jawāb (Lām Jawaban Sumpah) + Fi'l Muḍāri' + Nūn at-Taukid aṡ-Ṡaqīlah

Jawāb al-Qasam dan Jawāb Syarṭ (karena sumpah didahulukan). Mabnī 'alā al-fatḥ. Fā'il-nya ḍamīr mustatir (Dia/orang munafik itu).

كَأَن لَّمْ تَكُن (Ka'an lam takun)

Ka'anna (Harf Tasybīh - Seolah-olah) dan Lam (Jāzim) + Fi'l Muḍāri' Nāqiṣ Majzūm

Kaf adalah Harf Tasybīh (menyerupakan), An adalah Muḥaffafah min aṡ-Ṡaqīlah (ringan dari yang berat). Lam takun adalah Khabar Ka'anna (secara kedudukan).

بَيْنَكُمْ (Baynakum)

Ẓarf Makān (Keterangan Tempat)

Manṣūb. Khabar Takun Muqaddam.

وَبَيْنَهُ (Wa baynahū)

'Aṭaf kepada Baynakum.

Ẓarf Makān yang di-'aṭaf-kan.

مَوَدَّةٌ (Mawaddatun)

Ism Takun Mu'akhkhar (Subjek Takun yang diakhirkan)

Marfū'. Artinya: "cinta/kasih sayang."



II. Bagian Kedua: Penyesalan Munafik (Maqūl al-Qaul)

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

يَا لَيْتَنِي (Yā laytanī)

(Harf Nidā' - Panggilan, di sini untuk tanbīh - peringatan/perhatian) dan Layta (Harf Tasybīh - Harapan)

Layta adalah huruf yang menasabkan Ism dan merafa’kan Khabar. (ني) adalah Ism Layta (Ism Layta yang bersambung dengan Nūn al-Wiqāyah). Seluruh kalimat adalah Maqūl al-Qaul (Isi Ucapan) pada posisi naṣb.

كُنتُ مَعَهُمْ (Kuntu ma'ahum)

Kāna Nāqiṣah + Tā' (Ism Kāna) + Ma'ahum (Khabar Kāna)

Khabar Layta (secara kedudukan). Tā' (ـت) adalah Ism Kāna. Ma'ahum adalah Ẓarf pada posisi naṣb sebagai Khabar Kāna.

فَأَفُوزَ (Fa afūza)

Fā' as-Sababiyyah (Fā' Sebab/Akibat) dan Fi'l Muḍāri' Manṣūb

Fā' menunjukkan sebab akibat dari harapan (Layta). Manṣūb oleh An Muḍmarah setelah Fā' as-Sababiyyah. Fā'il-nya ḍamīr mustatir (ana).

فَوْزًا (Fawzan)

Maf'ūl Muṭlaq (Maṣdar)

Manṣūb. Maṣdar dari Afūza yang digunakan untuk penekanan.

عَظِيمًا ('Aẓīman)

Na'at (Sifat)

Manṣūb, mengikuti Fawzan. Artinya: "yang besar."


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Struktur Qasam + Syarat (La'in... Layaqūlanna): Kalimat ini adalah kombinasi kuat dari Sumpah (Qasam) dan Syarat (Syarṭ). Jawaban (لَيَقُولَنَّ) diarahkan kepada sumpah, bukan syarat, karena sumpah datang lebih dulu. Sumpah ini menegaskan bahwa perkataan munafik ini pasti akan diucapkan.

  2. Tasybīh (Ka'anna): Frasa كَأَن لَّمْ تَكُن بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ (seolah-olah tidak pernah ada kasih sayang antara kalian dan dia) adalah Tasybīh (penyerupaan) yang menggambarkan keanehan sikap munafik tersebut.

  3. Ḥaṣr Negatif pada Takun: لَمْ تَكُن... مَوَدَّةٌ menggunakan negasi (Lam) dan urutan kata yang menekankan ketiadaan hubungan batin. مَوَدَّةٌ (cinta) adalah fokus dari negasi itu, menjadikannya Ism Takun yang diakhirkan.

  4. Maqūl al-Qaul dan Fa' as-Sababiyyah: Isi ucapan orang munafik setelah melihat kemenangan adalah harapan palsu (يَا لَيْتَنِي كُنتُ مَعَهُمْ). Harapan ini diikuti oleh فَأَفُوزَ (maka aku akan beruntung), di mana Fā' as-Sababiyyah menunjukkan bahwa tujuan mereka bergabung (seandainya mereka bergabung) adalah murni untuk mendapatkan keuntungan material (fawzan 'aẓīman), bukan karena ketaatan. Afūza menjadi Manṣūb karena Fā' as-Sababiyyah.

  5. Maf'ūl Muṭlaq Penekanan: فَوْزًا عَظِيمًا (keberuntungan yang besar) sebagai Maf'ūl Muṭlaq menekankan betapa besarnya ambisi material mereka, sekaligus ironis, karena mereka tidak pernah mendapatkan keberuntungan sejati (keimanan dan Surga).

Ayat ini memperlihatkan sifat munafik yang picik, di mana baik musibah maupun karunia umat Islam hanya dinilai berdasarkan untung rugi material bagi diri mereka sendiri.