Ayat ini menjelaskan reaksi orang munafik (yang dicela di ayat 72)
jika kaum Muslimin mendapatkan karunia dan kemenangan dari Allah,
yaitu penyesalan karena tidak ikut serta dalam peperangan sehingga
tidak mendapat bagian dari rampasan perang. Ayat ini menyajikan sisi
lain dari egoisme munafik: bukan hanya syukur atas musibah kaum
Muslimin, tetapi juga penyesalan atas kesuksesan kaum Muslimin, di
mana motivasi mereka sepenuhnya material.
🧐 Analisis
I'rāb (Gramatikal)
I. Bagian Pertama:
Hipotesis Kemenangan dan Reaksi Munafik
Kata
|
I'rāb (Kedudukan
Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
وَ
(Wa)
|
Wāw Isti'nāfiyyah
|
Memulai kalimat baru.
|
لَئِنْ
(La'in)
|
Lām al-Muwāṭṭi'ah
li al-Qasam (Lām yang Mengindikasikan Sumpah) dan In
(Harf Syarṭ Jāzim)
|
Lām menunjukkan
adanya sumpah yang dihilangkan (wallāhi - Demi Allah).
In adalah huruf syarat.
|
أَصَابَكُمْ
(Aṣābakum)
|
Fi'l Māḍī
|
Fi'l Syarṭ
(Kata Kerja Syarat) pada posisi jazm (secara kedudukan).
Kum (كم)
adalah Maf'ūl bih.
|
فَضْلٌ
(Faḍlun)
|
Fā'il (Subjek)
|
Marfū'.
Artinya: "karunia/kemenangan."
|
مِّنَ
اللَّهِ (Mina Allāhī)
|
Jārr wa Majrūr
|
Na'at (Sifat)
untuk Faḍlun.
|
لَيَقُولَنَّ
(Layaqūlanna)
|
Lām al-Jawāb
(Lām Jawaban Sumpah) + Fi'l Muḍāri' + Nūn
at-Taukid aṡ-Ṡaqīlah
|
Jawāb al-Qasam
dan Jawāb Syarṭ (karena sumpah didahulukan). Mabnī
'alā al-fatḥ. Fā'il-nya ḍamīr mustatir
(Dia/orang munafik itu).
|
كَأَن
لَّمْ تَكُن (Ka'an lam takun)
|
Ka'anna (Harf
Tasybīh - Seolah-olah) dan Lam (Jāzim) + Fi'l
Muḍāri' Nāqiṣ Majzūm
|
Kaf adalah Harf
Tasybīh (menyerupakan), An adalah Muḥaffafah
min aṡ-Ṡaqīlah (ringan dari yang berat). Lam takun
adalah Khabar Ka'anna (secara kedudukan).
|
بَيْنَكُمْ
(Baynakum)
|
Ẓarf Makān
(Keterangan Tempat)
|
Manṣūb.
Khabar Takun Muqaddam.
|
وَبَيْنَهُ
(Wa baynahū)
|
'Aṭaf kepada
Baynakum.
|
Ẓarf Makān
yang di-'aṭaf-kan.
|
مَوَدَّةٌ
(Mawaddatun)
|
Ism Takun Mu'akhkhar
(Subjek Takun yang diakhirkan)
|
Marfū'.
Artinya: "cinta/kasih sayang."
|
Struktur Qasam + Syarat (La'in...
Layaqūlanna): Kalimat ini adalah kombinasi kuat dari
Sumpah (Qasam) dan Syarat (Syarṭ). Jawaban
(لَيَقُولَنَّ)
diarahkan kepada sumpah, bukan syarat, karena sumpah datang lebih
dulu. Sumpah ini menegaskan bahwa perkataan munafik ini pasti
akan diucapkan.
Tasybīh (Ka'anna): Frasa
كَأَن لَّمْ
تَكُن بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ
(seolah-olah tidak pernah ada kasih sayang antara
kalian dan dia) adalah Tasybīh (penyerupaan) yang
menggambarkan keanehan sikap munafik tersebut.
Ḥaṣr Negatif pada Takun: لَمْ
تَكُن... مَوَدَّةٌ
menggunakan negasi (Lam) dan urutan kata yang
menekankan ketiadaan hubungan batin. مَوَدَّةٌ
(cinta) adalah fokus dari negasi itu, menjadikannya
Ism Takun yang diakhirkan.
Maqūl al-Qaul dan Fa' as-Sababiyyah:
Isi ucapan orang munafik setelah melihat kemenangan adalah harapan
palsu (يَا لَيْتَنِي
كُنتُ مَعَهُمْ). Harapan ini diikuti
oleh فَأَفُوزَ
(maka aku akan beruntung), di mana Fā'
as-Sababiyyah menunjukkan bahwa tujuan mereka bergabung
(seandainya mereka bergabung) adalah murni untuk mendapatkan
keuntungan material (fawzan 'aẓīman), bukan karena ketaatan.
Afūza menjadi Manṣūb karena Fā' as-Sababiyyah.
Maf'ūl Muṭlaq Penekanan: فَوْزًا
عَظِيمًا (keberuntungan yang besar)
sebagai Maf'ūl Muṭlaq menekankan betapa besarnya ambisi
material mereka, sekaligus ironis, karena mereka tidak pernah
mendapatkan keberuntungan sejati (keimanan dan Surga).
Ayat ini memperlihatkan sifat munafik yang picik, di mana baik
musibah maupun karunia umat Islam hanya dinilai berdasarkan untung
rugi material bagi diri mereka sendiri.