Ayat ini melanjutkan kecaman terhadap orang-orang munafik yang telah
disebutkan di ayat sebelumnya (4:60 dan 4:61). Ayat ini menjelaskan
reaksi mereka ketika ditimpa musibah akibat perbuatan mereka
sendiri, dan bagaimana mereka mendatangi Nabi Muhammad ﷺ
sambil bersumpah.
🧐 Analisis
I'rāb (Gramatikal)
I. Bagian Pertama:
Reaksi Ketika Ditimpa Musibah
Kata
|
I'rāb (Kedudukan
Gramatikal)
|
Keterangan/Status
|
فَ
(Fa)
|
Fā' al-Faṣīḥah
|
Fā' yang menunjukkan
kelanjutan atau jawaban terhadap keadaan sebelumnya (yaitu
penolakan mereka terhadap hukum Allah).
|
كَيْفَ
(Kayfa)
|
Ism Istifhām
(Kata Tanya)
|
Khabar Muqaddam
dari Mubtada' yang dihilangkan (misalnya: Fa kayfa
yaṣīru ḥāluhum - Maka bagaimana jadinya keadaan
mereka?). Berada pada posisi raf' (secara makna).
|
إِذَا
(Iḏā)
|
Ẓarf Zamān Syarṭ
Ghayr Jāzim (Keterangan Waktu Syarat)
|
Manṣūb (dalam
posisi naṣb). Artinya: "ketika." Muḍāf
kepada kalimat setelahnya.
|
أَصَابَتْهُم
(Aṣābat-hum)
|
Fi'l Māḍī +
Tā' at-Ta'nīṯ + Hūm (Maf'ūl bih)
|
Fi'l Syarṭ.
|
مُّصِيبَةٌ
(Muṣībatun)
|
Fā'il (Subjek)
|
Marfū'. Muḍāf
Ilaih dari Iḏā.
|
بِمَا
(Bi mā)
|
Bā' (Jārr) +
Mā (Ism Mawṣūl Majrūr)
|
Jārr wa Majrūr
terkait dengan Aṣābat-hum. Artinya: "disebabkan
apa yang."
|
قَدَّمَتْ
(Qaddamat)
|
Fi'l Māḍī +
Tā' at-Ta'nīṯ
|
Ṣilah al-Mawṣūl
untuk مَا.
|
أَيْدِيهِمْ
(Aydīhim)
|
Fā'il (Subjek)
|
Marfū' dengan
ḍammah muqaddarah di atas yā'. Hūm
adalah Muḍāf Ilaih.
|
🔑 Poin
Utama I'rāb Ayat
Kayfa dan Iḏā: Ayat dibuka
dengan فَكَيْفَ
إِذَا (Maka bagaimana jika). Kayfa
adalah Khabar Muqaddam untuk Mubtada' yang
dihilangkan (misalnya: al-ḥālu). إِذَا
berfungsi sebagai Ẓarf untuk Jawāb
Syarṭ-nya, yaitu جَاءُوكَ
(mereka datang kepadamu). Seluruh konstruksi ini
adalah ungkapan kaget dan ancaman, mengarahkan pembaca untuk
merenungkan buruknya kondisi mereka.
Bimā Qaddamat Aydīhim: Frasa بِمَا
قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ (disebabkan
oleh apa yang telah dikerjakan oleh tangan mereka) adalah Jārr
wa Majrūr yang menjelaskan sebab musibah (أَصَابَتْهُم
مُّصِيبَةٌ). Ini merujuk pada kejahatan
munafik yang mereka lakukan (menolak hukum Allah dan mencari
Thaghut).
Jawāb Syarṭ yang Tidak Ber-I'rāb: Kalimat
جَاءُوكَ
(mereka datang kepadamu) adalah Jawāb Syarṭ
dari Iḏā. Karena Iḏā adalah kata syarat yang
tidak menjazmkan (Ghayr Jāzim), maka Jawāb Syarṭ-nya
tidak memiliki kedudukan I'rāb (tidak Majzūm).
Ḥāl dan Maqūl al-Qaul:
يَحْلِفُونَ
بِاللَّهِ (mereka bersumpah demi Allah)
adalah Ḥāl (keadaan) bagi Jā'ūka, menjelaskan
keadaan mereka saat datang. Isi sumpah mereka (إِنْ
أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا)
adalah Maqūl al-Qaul (Maf'ūl bih dari Yaḥlifūna),
yaitu klaim palsu mereka bahwa tujuan mereka hanyalah iḥsānan
(kebaikan) dan tawfīqan (mendamaikan).
In Nāfiyah: Huruf إِنْ
(di awal sumpah) di sini bukanlah huruf syarat,
melainkan Harf Nāfiyah (Negasi) yang bermakna Tidak.
Karena diikuti oleh إِلَّا
(kecuali), maka ini adalah gaya bahasa Pembatasan
(Ḥaṣr), yang berarti: "Tidaklah kami inginkan kecuali
kebaikan dan kedamaian."
Ayat ini menyajikan puncak kemunafikan mereka: ketika hukuman
duniawi menimpa mereka akibat dosa mencari Thaghut, mereka
datang kepada Nabi dengan sumpah palsu, mengklaim bahwa niat mereka
adalah kebaikan, bukan penolakan terhadap hukum Allah.