Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 62

Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: 'Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna'.

Irab Surat AnNisa ayat 62

Ayat ini melanjutkan kecaman terhadap orang-orang munafik yang telah disebutkan di ayat sebelumnya (4:60 dan 4:61). Ayat ini menjelaskan reaksi mereka ketika ditimpa musibah akibat perbuatan mereka sendiri, dan bagaimana mereka mendatangi Nabi Muhammad sambil bersumpah.

🧐 Analisis I'rāb (Gramatikal)

I. Bagian Pertama: Reaksi Ketika Ditimpa Musibah

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

فَ (Fa)

Fā' al-Faṣīḥah

Fā' yang menunjukkan kelanjutan atau jawaban terhadap keadaan sebelumnya (yaitu penolakan mereka terhadap hukum Allah).

كَيْفَ (Kayfa)

Ism Istifhām (Kata Tanya)

Khabar Muqaddam dari Mubtada' yang dihilangkan (misalnya: Fa kayfa yaṣīru ḥāluhum - Maka bagaimana jadinya keadaan mereka?). Berada pada posisi raf' (secara makna).

إِذَا (Iḏā)

Ẓarf Zamān Syarṭ Ghayr Jāzim (Keterangan Waktu Syarat)

Manṣūb (dalam posisi naṣb). Artinya: "ketika." Muḍāf kepada kalimat setelahnya.

أَصَابَتْهُم (Aṣābat-hum)

Fi'l Māḍī + Tā' at-Ta'nīṯ + Hūm (Maf'ūl bih)

Fi'l Syarṭ.

مُّصِيبَةٌ (Muṣībatun)

Fā'il (Subjek)

Marfū'. Muḍāf Ilaih dari Iḏā.

بِمَا (Bi mā)

Bā' (Jārr) + (Ism Mawṣūl Majrūr)

Jārr wa Majrūr terkait dengan Aṣābat-hum. Artinya: "disebabkan apa yang."

قَدَّمَتْ (Qaddamat)

Fi'l Māḍī + Tā' at-Ta'nīṯ

Ṣilah al-Mawṣūl untuk مَا.

أَيْدِيهِمْ (Aydīhim)

Fā'il (Subjek)

Marfū' dengan ḍammah muqaddarah di atas yā'. Hūm adalah Muḍāf Ilaih.



II. Bagian Kedua: Mendatangi Nabi dan Bersumpah

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

ثُمَّ (Ṡumma)

Harf 'Aṭf (Huruf Penghubung)

Menunjukkan urutan waktu dengan jeda.

جَاءُوكَ (Jā'ūka)

Fi'l Māḍī + Wāw al-Jamā'ah (Fā'il) + Kāf (Maf'ūl bih)

Jawāb Syarṭ (Jawaban Syarat) untuk Iḏā. Kalimat ini tidak memiliki kedudukan I'rāb.

يَحْلِفُونَ (Yaḥlifūna)

Fi'l Muḍāri'

Marfū'. Wāw al-Jamā'ah adalah Fā'il. Kalimat ini adalah Ḥāl (Keadaan) bagi Wāw al-Jamā'ah di Jā'ūka pada posisi naṣb. Artinya: "mereka datang dalam keadaan bersumpah."

بِاللَّهِ (Bil-lāhī)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq dengan Yaḥlifūna.

إِنْ أَرَدْنَا (In aradnā)

In (Nāfiyah - Negasi) + Fi'l Māḍī + (Fā'il)

Maqūl al-Qaul (Sumpah mereka) pada posisi naṣb (sebagai Maf'ūl bih dari Yaḥlifūna). In bermakna (Tidak).

إِلَّا (Illā)

Harf Ḥaṣr (Pembatas)

Membuat kalimat menjadi negasi + pembatasan (Tidak Kami inginkan kecuali...).

إِحْسَانًا (Iḥsānan)

Maf'ūl bih (Objek) dari Aradnā.

Manṣūb.

وَتَوْفِيقًا (Wa tawfīqan)

Wāw ('Aṭf) dan Ma'ṭūf

Manṣūb, di-'aṭaf-kan kepada Iḥsānan.


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. Kayfa dan Iḏā: Ayat dibuka dengan فَكَيْفَ إِذَا (Maka bagaimana jika). Kayfa adalah Khabar Muqaddam untuk Mubtada' yang dihilangkan (misalnya: al-ḥālu). إِذَا berfungsi sebagai Ẓarf untuk Jawāb Syarṭ-nya, yaitu جَاءُوكَ (mereka datang kepadamu). Seluruh konstruksi ini adalah ungkapan kaget dan ancaman, mengarahkan pembaca untuk merenungkan buruknya kondisi mereka.

  2. Bimā Qaddamat Aydīhim: Frasa بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ (disebabkan oleh apa yang telah dikerjakan oleh tangan mereka) adalah Jārr wa Majrūr yang menjelaskan sebab musibah (أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ). Ini merujuk pada kejahatan munafik yang mereka lakukan (menolak hukum Allah dan mencari Thaghut).

  3. Jawāb Syarṭ yang Tidak Ber-I'rāb: Kalimat جَاءُوكَ (mereka datang kepadamu) adalah Jawāb Syarṭ dari Iḏā. Karena Iḏā adalah kata syarat yang tidak menjazmkan (Ghayr Jāzim), maka Jawāb Syarṭ-nya tidak memiliki kedudukan I'rāb (tidak Majzūm).

  4. Ḥāl dan Maqūl al-Qaul: يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ (mereka bersumpah demi Allah) adalah Ḥāl (keadaan) bagi Jā'ūka, menjelaskan keadaan mereka saat datang. Isi sumpah mereka (إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا) adalah Maqūl al-Qaul (Maf'ūl bih dari Yaḥlifūna), yaitu klaim palsu mereka bahwa tujuan mereka hanyalah iḥsānan (kebaikan) dan tawfīqan (mendamaikan).

  5. In Nāfiyah: Huruf إِنْ (di awal sumpah) di sini bukanlah huruf syarat, melainkan Harf Nāfiyah (Negasi) yang bermakna Tidak. Karena diikuti oleh إِلَّا (kecuali), maka ini adalah gaya bahasa Pembatasan (Ḥaṣr), yang berarti: "Tidaklah kami inginkan kecuali kebaikan dan kedamaian."

Ayat ini menyajikan puncak kemunafikan mereka: ketika hukuman duniawi menimpa mereka akibat dosa mencari Thaghut, mereka datang kepada Nabi dengan sumpah palsu, mengklaim bahwa niat mereka adalah kebaikan, bukan penolakan terhadap hukum Allah.