Al-Quran Online ini, ajakan untuk mendalami AlQuran sambil mencari ridho dan cinta Allah semata
Daftar Akar Kata Pada AlQuran
Dipersembahkan oleh para sukarelawan yang hanya mencari kecintaan Allah semata

An-Nisa

dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ayat 21

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

Irab Surat AnNisa ayat 20

Ayat ini membahas larangan keras untuk mengambil kembali mahar istri, mengingat ikatan pernikahan yang agung dan janji setia yang telah dibuat.



I. Bagian Pertama: Pertanyaan Retoris dan Kondisi Pertama

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَكَيْفَ (Wa kayfa)

Wāw (Istināf) dan Ism Istifhām (Kata Tanya)

Mabnī 'alā al-fatḥ. Berada pada posisi naṣb sebagai Ḥāl (Keterangan Keadaan) yang didahulukan. Pertanyaan ini bersifat Inkāri (pengingkaran/celaan).

تَأْخُذُونَهُ (Ta'khuḍūnahu)

Fi'l Muḍāri' (Kata Kerja Sekarang/Akan Datang)

Marfū' dengan tsubūt an-nūn. Wāw al-Jamā'ah adalah Fā'il. Huruf hā' (ـه) adalah Maf'ūl bih (Objek) yang kembali kepada mahar (disebut di ayat sebelumnya).

وَقَدْ (Wa qad)

Wāw (Ḥāliyyah - keadaan) dan Harf Taukid (Penguat)

Wāw menunjukkan Jumlah setelahnya adalah Ḥāl. Qad menguatkan Fi'l Māḍī.

أَفْضَىٰ (Afḍā)

Fi'l Māḍī (Kata Kerja Lampau)

Mabnī 'alā al-fatḥ al-muqaddar (tersembunyi di atas alif).

بَعْضُكُمْ (Ba'ḍukum)

Fā'il (Subjek)

Marfū' (berharakat ḍammah).

إِلَىٰ بَعْضٍ (Ilā ba'ḍin)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq (terkait) dengan Afḍā.

Jumlah قَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ

Ḥāl (Keterangan Keadaan)

Kalimat kerja pada posisi naṣb sebagai Ḥāl bagi Fā'il (Wāw al-Jamā'ah) dari Ta'khuḍūnahu.




II. Bagian Kedua: Janji Setia (Miṯāqan Ghalīẓan)

Kata

I'rāb (Kedudukan Gramatikal)

Keterangan/Status

وَأَخَذْنَ (Wa aḵaḏna)

Wāw ('Aṭf) dan Fi'l Māḍī

Di'aṭafkan kepada Afḍā. Nūn an-Niswa (نَّ) adalah Fā'il pada posisi raf'.

مِنكُم (Minkum)

Jārr wa Majrūr

Muta'alliq dengan Aḵaḏna.

مِّيثَاقًا (Mīṯāqan)

Maf'ūl bih (Objek)

Manṣūb (berharakat fatḥah).

غَلِيظًا (Ghalīẓan)

Na'at (Sifat)

Manṣūb, mengikuti Mīṯāqan.


🔑 Poin Utama I'rāb Ayat

  1. I'rāb Kayfa: Kata وَكَيْفَ (bagaimana) adalah Ism Istifhām (Kata Tanya). Dalam struktur ini, ia berfungsi sebagai Ḥāl Muqaddam (Keterangan Keadaan yang didahulukan). Penggunaannya adalah Inkāri (pengingkaran/kecaman), yaitu "Bagaimana mungkin kalian mengambilnya kembali?"

  2. Kalimat Keadaan (Wāw al-Ḥāliyyah): Penolakan Allah diperkuat oleh dua Ḥāl (keadaan) yang dihubungkan oleh Wāw al-Ḥāliyyah:

    • Ḥāl 1: وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ (padahal sebagian kamu telah bercampur dengan sebagian yang lain—yaitu telah terjadi hubungan suami istri).

    • Ḥāl 2: وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقًا غَلِيظًا (dan mereka [para istri] telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat). Kedua kalimat ini menjelaskan betapa dalamnya ikatan pernikahan yang telah terjadi, sehingga mengambil kembali mahar adalah perbuatan yang sangat tercela dan bertentangan dengan perjanjian agung tersebut.

  3. Mīṯāqan Ghalīẓan: مِّيثَاقًا (perjanjian) adalah Maf'ūl bih yang disifati dengan غَلِيظًا (kuat/berat). Dalam konteks pernikahan, ini merujuk pada janji setia dan sumpah yang diambil di hadapan Allah saat akad nikah.

Ayat ini menyajikan argumen teologis yang kuat terhadap larangan mengambil kembali mahar, dengan mendasarkannya pada kehormatan dan keagungan ikatan pernikahan.